Tuesday, April 26, 2016

Persiapan Penyelenggaraan Pertandingan Pencak silat


      Dalam penyelenggaraan suatu pertandingan perlu disusun terlebih dahulu jadual kegiatan yang direncanakan. Jadual kegiatan ini memuat kapan diselenggarakan kegiatan pertandingan, setelah itu disusun langkah-langkah persiapan yang akan ditempuh. Pertandingan pencak silat merupakan kegiatan yang harus dipersiapkan jauh hari sebelumnya (minimal 6 bulan), karena melibatkan banyak profesi lain yang terkait dan semua itu membutuhkan dana yang cukup besar.
      Tujuan persiapan adalah untuk dapat dilaksanakan pertandingan dengan teratur, tertib, lancar, dan sedikit gangguan/ hambatan yang mungkin terjadi. Kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pertandingan   dapat dibagi menjadi tiga, yaitu : 1) persiapan pertandingan, 2) pelaksanaan pertandingan, dan 3) pasca pertandingan.

Persiapan pertandingan, dibagi menjadi dua :
a. Persiapan awal, yaitu persiapan jauh hari sebelum pertandingan, meliputi:
pembentukan panitia
pembuatan proposal
pengurusan prosedur perijinan
pengadaan trophy dan medali
pendaftaran peserta (tahap I, dan II)
Persiapan menjelang pertandingan, yaitu persiapan 1-2 hari sebelum pertandingan dimulai, meliputi :
rapat koordinasi panitia
persiapan gedung dan perlengkapan gelanggang (gong, stop watch, bendera, timbangan, body  protector, sabuk sudut, ember,  genetal protector)
persiapan blangko-blangko pertandingan (penimbangan ulang/ kesehatan, penugasan wasit juri, penilaian juri, keputusan pemenang, protes, naik banding)
persiapan seting tempat, dekorasi, dan dokumentasi
penimbangan pertama, technical meeting, looting
urutan acara dari pembukaan sampai penutupan

Pelaksanaan pertandingan, meliputi :
pembukaan
aparat pertandingan (sekretaris pertandingan, dokter, timer, wasit juri)
ATK, blangko-blangko pertandingan
kehadiran oficial serta jadual pertandingan
penimbangan ulang dan pemeriksaan pesilat
blangko penentuan pesilat terbaik dan juara umum
susunan penyerahan medali/ trophy

Pasca pertandingan pencak silat, meliputi :
rekapitulasi hasil pertandingan
evaluasi pelaksanaan pertandingan
pelaporan hasil penyelenggaraan pertandingan

C.  PENIMBANGAN, TECHNICAL MEETING, DAN LOTING
1. Penimbangan Berat Badan
         Dalam penjelasan peraturan pertandingaan pencak silat antarabangsa   penimbangan berat badan dilakukan dua kali, yaitu : a) penimbangan pertama dilakukan sekurang-kurangnya 6 (enam) jam sebelum dimulainya pertandingan pertama dalam suatu kejuaraan, b) penimbangan kedua atau penimbangan ulang dilakukan ( 15 (lima belas) menit sebelum pesilat yang bersangkutan mengikuti pertandingan sesuai dengan jadual yang ditentukan.
         Untuk memperlancar pelaksanaan penimbangan berat badan tahap pertama diperlukan minimal 3 (tiga) orang petugas, antara lain bertugas sebagai :
Pengecek persyaratan administrasi pendaftaran (satu orang petugas). Tugasnya mengecek akte kelahiran/ ijasah, persyaratan administrasi, dan rekomendasi dari daerah/ perguruan tinggi/ perrguruan pencak silat.
Pengecek pengesahan berat badan pesilat (satu orang petugas). Tugas mencocokkan ID card pesilat dan pengesahan berat badan sesuai dengan kelas yang diikutinya. Bagi pesilat yang belum memenuhi kelasnya pada penimbangan pertama diberi kesempatan waktu 1 (satu) jam untuk menurunkan/ menaikkan berat badan.
Penulis hasil keabsahan berat badan masing-masing kontingen (satu orang petugas).  Selanjutnya merekapitulasi masing-masing kelas seluruh peserta kejuaran pencak silat, termasuk jumlah seluruh peserta untuk mengetahui jumlah partai pertandingan.
Adapun perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam penimbangan berat badan adalah sebagai berikut :
Timbangan digital atau timbangan berat badan denngan satuan kilogram sampai  dengan gram.
Blangko keabsahan penimbangan berat badan  masing-masing kontingen.
Blangko rekapitulasi penimbangan berat badan masing-masing kelas.
           
2.  Technical Meeting (Pertemuan Teknik)
Setelah selesai keabsahan penimbangan berat badan tahap pertama dan diketahui hasil rekapitulasi jumlah peserta masing-masing kelas, maka dapat dilakukan technical meeting. Technical meeting dipimpin oleh ketua pertandingan dan dewan wasit juri dihadiri oleh delegasi teknik.
Hal-hal yang perlu disampaikan dalam pertemuaan teknik   adalah sebagai berikut :
Peraturan pertandingan yang dipergunakan dalam kejuaraan (Hasil Munas IPSI XII tahun 2007).
Kesepakatan teknis yang belum tertuang dalam peraturan pertandingan.
Penentuan juara umum dengan cara:
Perhitungan jumlah medali emas, perak, perunggu yang terbanyak.
Dengan menskor juara I nilai 5, juara II nilai 3, dan juara III nilai 1.
            d.   Penentuan pesilat terbaik dengan syarat:
Juara I atau medali emas
Memiliki teknik taktik yang baik
Memiliki sportifitas yang tinggi
Memiliki stamina yang baik
e.   Penentuan protes dan prosedurnya serta sanksi terhadap keributan bagi pesilat, manajer, maupun supporter (tingkat nasional setiap kali protes sebesar Rp 500.000,00).
Pembagian pool  peserta pencak silat kategori Tunggal, Ganda, dan Beregu.
Lain-lain yang dianggap perlu dalam pelaksanaan pertandingan.

3.  Loting (Undian)
Setelah pertemuan teknik ada kesepakatan dan disetujui, maka dilanjutkan dengan pengundian peserta kejuaraan dari masing-masing kelas. Dalam peraturan pertandingan  tidak ada pesilat yang diunggulan atau sistem seeded. Dengan demikian tidak ada pesilat kategori tanding yang diutamakan dalam penempatan di bagan pertandingan.
Nomor-nomor yang dipertandingan dalam kejuaraan pencak silat mengacu pada International Pencak Silat Federation yang dikategorikan menjadi 4 (empat) kategori yakni: 1) Kategori Tanding, 2) Kategori Tunggal, 3) Kategori Ganda, dan 4) Kategori Beregu.
Adapun sistem pertandingan kejuaran pencak silat ada dua, yaitu: 1) sistem gugur, dan 2) sistem pool.
  Sistem Gugur digunakan pada Kategori Tanding, yaitu pesilat yang sekali mengalami kekalahan, maka dia tidak dapat bertanding lagi. Pada Kategori Tanding diperebutkan juara I, II, serta juara III kembar.
Sedang Sistem Pool digunakan pada Kategori Tunggal, Ganda, dan Beregu (TGR). Pada penjelasan peraturan pertandingan pencak silat antarabangsa (1999: 16) disebutkan bahwa:
Bila pertandingan TGR diikuti oleh lebih dari 7 (tujuh) peserta maka dipergunakan sistem pool.
Tiga peraih nilai tertinggi dari setiap pool ditampilkan kembali untuk mendapatkan penilaian di tahap berikutnya, kecuali tahap berikutnya adalah final. Peserta tingkat final  adalah 3 (tiga) pemenang menurut urutan perolehan nilai dari tahap pool pertandingan sebelumnya.
Jumlah pool ditetapkan oleh rapat antara delegasi teknik, ketua pertandingan, dan dewan juri disampaikan kepada peserta dalam rapat teknik. Pembagian pool peserta dilakukan melalui undian dalam rapat teknik.
Setiap kategori minimal diikuti oleh 2 (dua) peserta, dan langsung babak final.
Untuk melaksanakan undian dibutuhkan minimal 4 (empat) orang petugas, antara lain bertugas sebagai berikut :
Pemimpin sidang yang bertugas menjelaskan tata tertib dalam pengundian (1 orang petugas).
 Petugas penggulung kertas/ kartu bertugas membacakan kontingen dan nomor undian (1 orang petugas).
Penulis bagan pertandingan di papan (1 orang petugas).
Sekretaris pertandingan yang merekap seluruh bagan pertandingan (1 orang petugas).
Adapun perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam pengundian kejuaraan masing-masing kelas adalah sebagai berikut:
Papan/ kertas bagan perrtandingan sesuai dengan kelas dan jumlah peserta.
Kotak pengocok atau kartu untuk pengundian.
Presensi kehadiran tim mannajer/ official.

D. Pembuatan Bagan Pertandingan
      Pada pertandingan sistem gugur, bagan pertandingan yang langsung dapat dibuat adalah dengan jumlah peserta tertentu. Bagan yang langsung dapat dibuat adalah bila jumlah peserta pertandingan sesuai dengan    rumus:  2 (
Keterangan: n adalah bilangan (2,3,4,5, dst.).
Contoh peserta pertandingan jumlahnya : 2 ( = 4
 
Perlu diperhatikan bila ada Babak Pendahuluan atau Bey, maka penempatannya harus dibuat seimbang (adil) yaitu dipisah antara belahan atas dengan belahan bawah.
Pada Kategori Tunggal, Ganda Regu (TGR) menggunakan sistem Pool, dengan membedakan Jenis Kelaminnya. Ketentuan pertandingan apabila peserta 7 (tujuh) maka pertandingan dibuat 1 pool dan langsung final. Pemenangnya adalah peserta yang mempunyai nilai tertinggi dan hanya diambil juara I, II, dan III saja.
Soal 4:  Peserta Kategori Tunggal Putra jumlah peserta adalah 7 orang, maka langsung Final dan urutan undian pool adalah sebagai berikut:

Tabel  6. Pool Final Kategori Tunggal
No. UndianKontingenJumlah NilaiJuara1.DKI Jaya465I2.Yogyakarta463II3.Jabar455VI4.Jatim460III5.Jateng454VII6.Bali459IV7.Sulsel458V
Hasil Final Kategori Tunggal Putra adalah :
Juara I    DKI Jaya         total nilai 465
Juara II  DI Yogyakarta total nilai 463
Juara III Jatim                total nilai 460

Soal 6:  Apabila peserta kejuaraan pencak silat Kategori Beregu Putri jumlahnya 10 orang, maka harus dibuat 2 (dua) pool sebagai berikut:

Tabel 7. Pool A  terdiri atas 5 (lima) peserta:
No. UndianKontingenJumlah NilaiJuara1.DKI Jaya475I2.Jateng460III3.Kalteng455IV4.Jabar 473II 5.Sumsel454V

Tabel 8. Pool B  terdiri atas 5 (lima) peserta:
No. UndianKontingenJumlah NilaiJuara1.Bali465I2.Yogyakarta463II3.Kalbar455V4.Jatim460III5.Sulsel459IV
   Selanjutnya juara I, II dan III masing-masing pool (A dan B) masuk final, sehingga pesertanya ada 6 (enam finalis). Panitia mengadakan undian lagi pada Grand Final , adapun hasil undian dapat dilihat pada tabel 8 final berikut ini.
    Tabel 9. Pool Grand Final
No. UndianKontingenJumlah NilaiJuara1.Bali459V2.DKI Jaya475I 3.Yogyakarta460IV4.Jabar470III5.Jatim473II6.Jateng455VI
Hasil Final Kategori Beregu Putri adalah :
Juara I    DKI Jaya           total nilai 475
Juara II  Jatim                  total nilai 473
Juara III Jabar                  total nilai 470

E. Cara Menentukan Jumlah Pertandingan
    Pada sistem pool untuk kategori TGR dalam menentukan jumlah peserta maupun jumlah pertandinagn tidak terlalu sulit karena jumlah peserta sedikit, namun pada kategori tanding untuk menentukan jumlah pertandingan cukup banyak. Berikut ini cara menentukan jumlah pertandingan dari seluruh kelas.  Contoh peserta Kejuaraan Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi Se-DI Yogyakarta adalah sebagai berikut :
Kelas A putra  jumlah peserta = 17 pesilat
Kelas A putri  jumlah peserta = 15 pesilat
Kelas B putra  jumlah peserta = 21 pesilat
Kelas B putri jumlah peserta  = 11 pesilat
Kelas C putra  jumlah peserta = 14 pesilat
Kelas C putri  jumlah peserta = 10 pesilat  +
      Jumlah seluruh peserta        =  88 pesilat

Untuk menentukan jumlah pertandingan Masing-Masing Kelas pada kategori tanding (sistem gugur) dengan menggunakan rumus:
   n - 1     keterangan : n adalah jumlah peserta tiap kelas
Rumus tersebut hanya digunakan untuk menentukan juara III kembar, namun apabila juara III hanya 1 (satu) pesilat, maka jumlah pertandingan adalah n.

Soal 7: Jumlah peserta kelas A putra = 17 pesilat, maka untuk menghitung jumlah pertandingan kelas A putra adalah dengan rumus:
                                                               n  - 1 =
                                                               17  - 1 =  16 partai pertandingan

Soal 8:  Apabila ingin mengetahui jumlah Seluruh Pertandingan dengan menggunakan rumus:        N - k
Keterangan:
N : adalah jumlah seluruh kelas peserta pertandingan
k : adalah jumlah kelas yang dipertandingkan

Jadi jumlah seluruh pertandingan adalah: N - k  =
                                                                  88 - 6  =  82 partai pertandingan
F. Estimasi Waktu Dan Pembiayaan Dalam Kejuaraan
   Dengan diketahuinya jumlah partai dalam kejuaraan yaitu 82 partai, maka dapat dihitung jam yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pertandingan pencak silat. Bila  estimasi 1  (satu) jam dapat menyelesaikan 4 (empat) partai pertandingan, maka dapat diketahui jumlah jam yang dibutuhkan, yaitu 82 : 4 = 20.5 jam (dibulatkan 21 jam).
 
Jumlah Petugas35
       Dengan demikian jumlah personil yang dibutuhkan dalam suatu kejuaraan dengan 1 (satu) gelanggang adalah 35 orang. Apabila pertandingan menggunakan 2 (dua) gelanggang, maka personil aparat pertandingan ditambah 2 (dua) kali lipat, kecuali Delegasi Teknik dan Asisten Delegasi Teknik, Dokter Pertandingan dan Para Medis, serta Petugas Penimbangan. Aparat pertandingan ini jumlah tetap sama karena saat bertugas mereka duduk diantara dua gelanggang.
     Estimasi dana yang harus dipersiapkan dalam penyelenggaraan pertandingan, apabila kejuaraan ini bertaraf nasional, misalnya Kejuaraan Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi se-DI Yogyakarta.

G. Komite Pelaksanaan Pertandingan
      Setiap kejuaraan pencak silat dilaksanakan oleh komite pelaksana, komite ini  ditunjuk dan disahkan oleh Pengurus Top Organisasi Pencak Silat (PERSILAT, PB IPSI, Pengprov IPSI, dst.) sesuai dengan tingkat kejuaraan tersebut. Menurut peraturan pertandingan PERSILAT pelaksana pertandingan terdiri dari unsur pengurus pencak silat dan unsur anggota pencak silat, yang pada dasarnya struktur dan susunan komite pelaksana.

1. Tugas dan Tanggungjawab Delegasi Teknik (DT)
Delegasi teknik adalah sekretaris jenderal  dari PERSILAT/ PB IPSI/ Pengda IPSI. Tugas dan tanggungjawab delegasi teknik adalah :
Sebagai pendamping, pengarah dan penyelia komite pelaksana pertandingan sejak awal kegiatan persiapan, selama kejuaraan, sampai dengan berakhirnya kejuaraan.
Menagani permasalahan yang menyangkut umum maupun teknis penyelenggaraan pertandingan. Saran dan petunjuk DT mempunyai kekuatan mengikat bagi komite pelaksana pertandingan. Kewenangan DT menyangkut menghentikan pertandingan, menunda, membatalkan, pertandingan dan atau mengganti komisi pertandingan bila diperlukan.
Menangani protes (naik banding) bersama ketua pertandingan, dan dewan wasit juri, serta anggota wasit juri yang bertugas (bila diperlukan).
Mengisi dan menandatangani buku penilaian wasit juri.
Menyampaikan laporan tanggungjawab pelaksanaan pertandingan kepada pengurus PERSILAT/ PB IPSI/ Pengda IPSI selambat-lambatnya satu bulan setelah berakhirnya pertandingan.
            Dalam menjalankan tugas DT dibantu oleh Asisten Delegasi Teknik yang diangkat dan ditugaskan oleh PERSILAT/ PB IPSI/ Pengda IPSI untuk membantu DT. Dalam melaksanakan tugasnya asisten delegasi teknik bertanggungjawab kepada DT.
2. Tugas dan Tanggungjawab Ketua Komite Pelaksana
Ketua dan wakil komite pelaksana adalah mereka yang diangkat oleh PERSILAT/ PB IPSI/ Pengda IPSI berdasarkan usulan panitia sesuai dengan status penyelenggaraan pertandingan. Tugas dan tanggungjawab ketua pelaksana adalah sebagai berikut :
Memimpin dan bertanggungjawab untuk memimpin dan melaksanakan kejuaraan.
Wakil ketua bertugas membantu dan bertanggungjawab kepada ketua pelaksanaan.
Menyampaikan laporan tanggungjawab pelaksanaan pertandingan kepada pengurus PERSILAT/ PB IPSI/ Pengda IPSI selambat-lambatnya satu bulan setelah berakhirnya pertandingan.

3. Bidang Teknik Pertandingan
           Executive committee pada bidang umum tugas dan tanggungjawab dari masing-masing panitia adalah pada persiapan awal sebelum pertandingan, sedangkan bidang teknik tugas dan tanggungjawabnya dilaksanakan saat pertandingan berlangsung. Adapun tugas dan tanggungjawab masing-masing bidang teknis adalah sebagai berikut :
            a.  Ketua dan Wakil Ketua Pertandingan
Adalah ditunjuk oleh PERSILAT/ PB IPSI/ Pengda IPSI dari anggota wasit juri Internasional/ Nasional (kelas I atau II).
Tugas ketua dan wakil ketua pertandingan adalah memimpin pelaksanaan teknis pertandingan.
Menyelesaikan protes dan naik banding bersama Dewan Wasit Juri dan DT.
Ketua pertandingan bertanggungjawab kepada delegasi teknik dan ketua pelaksana, sedang wakil ketua pertandingan bertanggung jawab kepada ketua pertandingan.
b.  Dewan Wasit Juri dan Anggota
Adalah ditunjuk oleh PERSILAT/ PB IPSI/ Pengda IPSI dari anggota wasit juri Internasional/ Nasional (kelas I atau II).
Tugas dewan wasit juri adalah membuat matrik/ penugasan anggota wasit juri dalam pertandingan pencak silat.
Bersama delegasi teknik dan ketua pertandingan menjawab protes dari official.
Dewan wasit juri bertanggungjawab kepada ketua pertandingan dan delegasi teknik.
Anggota wasit juri bertugas memimpin pertandingan dan menilai pesilat saat bertanding. Anggota wasit juri bertanggungjawab kepada ketua pertandingan

BAB VIII
STRATEGI PELATIHAN DAN PENILAIAN

A. Strategi Pelatihan

Kompetensi yang diharapkan adalah memiliki kepribadian, dan kemampuan mengembangkan profesi kepelatihan/ keguruan, dengan sub kompetensi mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelaan dan serangan beladiri, bentuk-bentuk pembelajaran beladiri, dan penerapan peraturan pertandingan pencak silat dalam kegiatan kesiswaan di lingkungan sekolah.
Untuk itu salah satu strategi pembelajaran yang dapat dirancang untuk membelajarkan kompetensi dan sub kompetensi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan, sumber dan media, serta skenario pelatihan sebagai berikut.

Pendekatan Kontekstual
Pendekatan yang digunakan  dalam pelatihan pengertian beladiri, pembelaan dan serangan beladiri pencak silat, prinsip-prinsip pembelajaran beladiri, penerapan peraturan pertandingan pencak silat, dam manajemen penyelenggaraan pertandingan adalah pendekatan kontekstual (CTL), dengan memunculkan kompetensi learning learning, questioning, authentic asessment, dan reflection.
Media dan Sumber Belajar
Media atau sumber belajar yang digunakan dapat memanfaatkan transparansi, gambar, foto, dari berbagai media cetak yang relevan, serta balok kayu dan sansak/ target.

Skenario Pelatihan
 Melontarkan permasalahan untuk memancing reaksi dari peserta pelatihan atau siswa berdasarkan pengetahuan awal.
 Peserta dibagi dalam kelompok kecil (4-5 orang). Berdasarkan sub kompetensi yang ada pelatih memberikan sejumlah tugas atau pertanyaan kepada setiap kelompok. Setiap kelompok diberi tugas untuk mendiskusikan tentang sistem pertandingan yang berbeda-beda, serta bagaimana memanage penyelenggaraan pertandingan.
 Pembelajaran untuk teori dengan diskusi kelompok, pelatih/ guru mengamati kinerja setiap individu dalam proses kelompok. Untuk praktik dilakukan secara  klasikal, kelompok barisan/ saf atau berpasangan untuk memperagakan gerakan, pelatih/ guru mengamati dan membetulkan gerakan secara individu atau  kelompok.
 Setiap kelompok memperagakan gerakan dasar pencak silat dan siswa mengoreksi gerakan bersama pelatih/ guru. Pelatih/ guru memberikan tanggapan dan evaluasi, serta koreksi tentang hasil pelaksanaan gerakan serta penerapan peraturan pertandingan. Dilakukan refleksi pada proses pembelajaran agar dapat memperbaiki proses pembelajaran berikutnya.
Penilaian dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan keterampilan peserta pelatihan atau siswa mengenai prinsip-prinsip pembelaan dan serangan beladiri, bentuk-bentuk pembelajaran beladiri, dan penerapan peraturan pertandingan pencak silat. Adapun penilaian dapat dilakukan dengan cara: (1) tes tertulis, (2) pengamatan dari kinerja (performance) dan partisipasi peserta atau siswa dalam kelompok atau pasangan, serta (3) penilaian tugas-tugas baik tugas individu maupun kelompok.

B. Penilaian
1. Teori
         Pelatih/ guru membuat pertanyaan yang berdasarkan pada materi yang diberikan pada setiap pokok bahasan dan sub pokok bahasan pencak silat, kemudian diujikan pada siswa secara perorangan, kelompok atau klasikal.
Range nilai ujian teori adalah: 0  100
Bobot nilai ujian teori adalah 1
Berikut ini soal-soal latihan tertulis yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
Jelaskan perbedaan teknik beladiri Pencak Silat dengan beladiri Judo?
Apa ciri-ciri khusus beladiri pencak silat dibandingkan dengan beladiri lain?
Peragakan pembelaan lanjutan dengan arah 8 penjuru mata angin.
Peragakan pembelaan dasar dengan arah 8 penjuru mata angin kemudian beri variasi serangan pukulan.
Peragakan pembelaan dasar dengan arah 8 penjuru mata angin kemudian beri variasi tendangan.
Apa tujuan guru dalam memilih susunan latihan bersaf sambil berjalan ?
Kapan guru memperagakan susunan latihan berhadapan ?
Peragakan latihan kuda-kuda dalam bentuk permainan
Peragakan sikap-kuda-kuda dalam lomba tarik tambang dan jelaskan prinsip-prinsip pelaksanaannya.
Peragakan latihan hindaran dengan berpasangan serta jelaskan prinsip-prinsip pelaksanaannya.
Peragakan cara memasuki gelanggang dan melakukan penghormatan.
Peragakan teknik tendangan yang sah pada bidang sasaran.
Apa golongan dan kelas, bila siswa SMP umur 16 tahun dengan berat badan 42 kg ?
Perlengkapan apa saja yang harus dipersiapan pada pesilat putra pada saat bertanding ?

Tugas
        Pelatih/ guru memilih dan menentukan sub pokok bahasan pencak silat yang telah diberikan, kemudian memberikan tugas kepada siswa berupa kliping atau tulisan secara kelompok atau perorangan.
Range nilai tugas adalah: 50  100
Bobot nilai ujian teori adalah 1
Berikut ini tugas-tugas yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
Buat gambar gelanggang pertandingan pencak silat.
Gambarkan sikap kuda-kuda pada pencak silat.
Gambarkan sikap pasang pada pencak silat.
Buat kliping tentang pertandingan pencak silat.
Buat kliping tentang olahraga beladiri.

Praktik
         Pelatih/ guru memilih dan menentukan materi ujian praktek sesuai dengan pokok bahasan dan sub pokok bahasan pencak silat, kemudian diujikan pada siswa secara perorangan, berpasangan atau klasikal yang disesuaikan dengan kondisi alat dan fasilitas yang ada di sekolah.
Range nilai ujian praktek adalah: 50  100
Bobot nilai ujian teori adalah 2
         Berikut ini praktik yang harus diperagakan oleh peserta pelatihan.
Peragakan sikap-sikap berdiri pada pencak silat.
Peragakan delapan sikap pada pencak silat, serta beri variasi serangan.
Peragakan bentuk-bentuk pembelaan pada pencak silat.
Peragakan tata cara memasuki gelanggang seorang pesilat.
Peragakan penilaian yang sah pada pertandingan pencak silat.


DAFTAR PUSTAKA
Agung Nugroho. (1999). Administrasi dan Organisasi Penyelenggaraan Pertandingan Pencak Silat Olahraga. Yogyakarta: FPOK IKIP Yogyakarta.

----------. (2001). Diktat PedomanLatihan Pencak Silat. Yogyakarta: FIK-UNY.

----------. (2004). Pencak Silat: Comparasi, Implementasi, dan Manajemen. Yogyakarta: FIK-UNY.

----------. (2007). Ensiklopedi Pencak Silat Bergambar. Yogyakarta: FIK-UNY.

Fay Goodman. (1998). The Ultimate Book of Martial Arts. New York: Annes Publishing Inc.

Januarno. (1989). Pedoman Pembinaan Latihan Prestasi Olahraga Pencak Silat. Jakarta: Yayasan Setia Hati Terate.

M. Atok Iskandar. (1992). Pencak Silat. Jakarta: Dirjen Dikti Dep. P dan K.

Moch. Saleh. (1986). Materi Pokok Beladiri dan Metodik. Jakarta: Karunia.

Notosoejitno. (1997). Khasanah Pencak Silat. Jakarta: CV. Sagung Seto.

PB IPSI. (1994). Pencak Silat. Jakarta: Humas PB IPSI.

----------. (1999). Penjelasan Peraturan Pertandingan Pencak Silat Antarabangsa. Surabaya: Panpel Pencak Silat PON-2000.

----------. (2007). Peraturan Pertandingan Pencak Silat. Jakarta: Munas XII IPSI.

PERSILAT. (2000). Peraturan Pertandingan Pencak Silat Antara Bangsa. Jakarta: Humas PERSILAT.

----------. (2001). The International Pencak Silat Competition Regulations. Kuala Lumpur:  OC SUKAN SEA XXI-2001.

----------. (2004). The International Pencak Silat Competition Regulation. Jakarta: IPSF-PERSILAT.

Sardjono. (1981). Didaktik dan Metodik Senam.Yogyakarta: FKIK- IKIP.

Tisnowati Tamat. (1982). Pelajaran Dasar Pencak Silat. Jakarta: Miswar.


CATATAN PENTING:
" Isi artikel ini banyak yang terpotong, untuk lebih lengkap dan jelas silahkan download makalahnya di sini"
DOWNLOAD HERE

PENGERTIAN MANAJEMEN PERTANDINGAN PENCAK SILAT


      Pertandingan pencak silat merupakan even yang bergengsi dalam kejuaraan baik yang bersifat tingkat daerah, nasional, maupun sampai ke internasional. Persiapan dalam pertandingan pencak silat cukup lama mengingat even ini melibatkan banyak orang dan banyak kategori yang dipertandingkan seperti: kategori Tanding, Tunggal, Ganda, dan Beregu.
    Pengetahuan dan pemahaman tentang manajemen penyelenggaraan pertandinagn ini dipandang perlu bagi insan pencak silat, sebagai patokan apabila disuatu saat akan menyelenggarakan pertandingan. Dengan mengetahui dan memahami tatacara yang benar dalam penyelenggaraan pertandingan, diharapkan pelaksanaan pertandingan dapat berjalan dengan baik dan lancar serta efektif dan efisien.
    Untuk itu dalam penyelenggaraan pertandingan perlu manajemen yang baik dari awal persiapan pelaksanaan pertandingan, penimbangan berat badan, pengundian, serta seting penimbangan sampai kejuaraan. Panitia juga harus mengetahui bagaimana cara menentukan jumlah pertandingan, termasuk estimasi waktu dan pembiayaan kejuaraan yang harus dipersiapkan. Pelaksanaan yang baik juga adanya kerja sama antara komite pelaksana pertandingan yang mengetahui tugas dan tanggungjawabnya sehingga pertandingan dapat berjalan dengan lancar.

      Pencak silat merupakan cabang olahraga asli bangsa Indonesia yang sudah dipertandingkan pada multievent resmi seperti: Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS), Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS), Pekan Olahraga Nasional (PON), Pekan Olahraga Asia Tenggara (Sea Games), Pekan Olahraga Mahasiswa ASEAN (ASEAN University Games ke XII di Indonesia, XIII di Vietnam, XIV di Malaysia), dan yang terakhir masuk pada olahraga pantai ASEAN Beach Games (ABG I di Bali). Dengan dipertandingkannya cabang olahraga pencak silat di manca negara, maka pencak silat sudah Go International dan bukan lagi milik bangsa Indonesia, tetapi olahraga milik dunia.
     Pada dasarnya pencak silat memiliki empet aspek dalam  pengembangannya, yaitu : aspek mental spiritual, aspek seni, aspek beladiri, dan aspek olahraga. Pada perkembangan nya di even-even resmi pencak silat berkembang pesat khususnya pada aspek olahraga, meskipun tidak menutup kemungkinan banyak perguruan-perguruan pencak silat di luar negeri mengembangkan pada aspek seni-beladiri dan mental spiritualnya.
    Pencak silat pada aspek olahraga tentunya mengacu pada peraturan pertandingan yang telah ditetapkan oleh Federasi Pencak Silat International yang disebut PERSILAT (Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa). Meskipun sudah ada peraturan pertandingan, peraturan perwasitan, dan peraturan penyelenggaraan pertandingan, namun manajemen penyelenggaraan pertandingan kurang dapat berjalan dengan baik, dan tidak selalu tepat sesuai dengan perencanaannya. Hal ini dikarenakan masing-masing komite penyelenggara kurang paham akan manajemen pertandingan pencak silat.
     Keberhasilan penyelenggaraan pertandingan tidak terlepas dari perencanaan yang tertata baik dan rapi dalam penyelenggaraan pertandingan. Sehingga diharapkan dengan manajemen pertandingan yang baik akan menjadikan pertandingan dapat berjalan dengan lancar sesuai jadual, perwasit jurian baik, tepat waktu, dan kecil terjadi kecelakaan, sehingga dana yang dikeluarkan tidak membengkak.
     Pada penyelenggaran pertandingan tentunya persiapan direncanakan jauh hari sebelum penyelenggaraan sampai dengan persiapan menjelang pertandingan. Persiapan kepanitiaan dibagi menjadi dua yang meliputi: (1) bidang umum, dan (2) bidang teknik pertandingan.  Bidang umum tugasnya adalah pendukung dalam penyelenggaraan pertandingan yaitu pada persiapan awal di luar teknis pertandingan meliputi: publikasi dan dokumentasi, akomodasi, konsumsi, perlengkapan/ venue, kesehatan, keamanan, dan dana.  Sedang bidang teknik pertandingan khusus memanage pada saat pelaksanaan pertandingan yang meliputi: ketua pertandingan, dewan wasit juri, sekretaris pertandingan, dokter pertandingan, dan timers.


7 Fakta yang menarik dari seorang wanita



Saat yang tepat untuk anda mengetahui 7 fakta yang menarik dari sosok wanita yang selama ini belum kamu ketahui. Sifat serta karakteristiknya sangat berbeda dari seorang pria dan itulah mengapa wanita sulit untuk dipahami, langsung saja akan kita bahas disini:

1. Social Programming
Social Programming adalah didikan, norma-norma, cara berfikir, mentalitas dan
kepercayaan yang ditanamkan orang tua dan lingkungan sosial kepada si Wanita
dari sejak kecil. Keluarga, Lingkungan Ber-aktifitas, Sekolah, Pengalaman Pribadi
dan Trauma bertanggung-jawab atas pembentukan Pemikiran si Wanita.
contoh: Jangan percaya dengan orang yang baru dikenal, pacar yang ideal itu
begini dan begitu, pilih teman yang begini begitu, kalau mau masa depan
bahagia harus begini begitu, dunia luar itu begini dan begitu, dll.

2. Social Pressure
Ini adalah tekanan dari Lingkungan dan Masyarakat. Banyak wanita takut untuk
dinilai bertingkah laku BURUK oleh Masyarakat dan Lingkungannya. Kadang
mereka tidak menjadi diri mereka sendiri demi menjaga image mereka dan karena
takut dinilai SALAH oleh masyarakat atau lingkungan mereka. Kadang Mereka
membuat-buat gaya berbicara dan tingkah laku mereka yang jauh-jauh berbeda
dengan diri mereka yang sebenarnya. Kadang mereka membuat Keputusan
yang berbeda dengan apa yang mereka mau dikarenakan TEKANAN sosial dari
lingkungan, keluarga atau teman-teman mereka.

contoh: Wanita yang gampang bergaul dengan Pria itu murahan, Wanita cantik
itu harus pasang muka konservatif (jutek) dan jaga image (JAIM), Wanita tidak
boleh mengejar Pria, Wanita Cantik jika berpacaran dengan Pria yang tidak kaya
sama saja tidak bisa memilih pasangan yang IDEAL, dll. dll.

Anggaplah seorang Wanita TERTARIK dengan anda, tapi teman-temannya TIDAK
SETUJU jika si Wanita harus dekat dengan anda. Kemungkinan Besar si Wanita akan
Berubah Arah dan mengikuti Saran Teman-temannya untuk melupakan anda.
Tapi jika seorang Wanita TIDAK TERTARIK dengan anda sedangkan anda mampu
membuat semua teman-temannya TERTARIK dengan anda, maka teman-
temannya dapat membuat si Wanita menjadi TERTARIK dengan anda… hebat
bukan?... hmmm… pikirkan itu baik-baik… Social Pressure bisa membuat seseorang
mengubah pemikirannya secara instan…

3. Culture (budaya) 
Ini adalah perbedaan sosial, suku, ras, budaya, bahasa, norma-norma, peraturan
menurut budaya, kelas dan nilai-nilai tertentu. Culture membentuk SELERA si
Wanita, Cara Berkomunikasi, Hobi, Kegiatan dan banyak hal yang mempengaruhi
emosi dan perilakunya.

4. Persona (ego) 
Ini adalah gengsi si Wanita. Banyak Wanita yang gara-gara gengsi sepertinya
kelihatan tidak ramah tapi sebenarnya mereka sangat ramah, ada juga yang suka
membela diri walau salah, bilang tidak SUKA pedahal sebenarnya SUKA, tapi
karena gengsi, jadi pura-pura tidak suka, dll. dll.

5. Logika
Ini adalah hal yang bersangkutan dengan alasan serta sebab-akibat termasuk
apa untung-ruginya berpacaran dengan anda, anda mapan atau tidak, apakah
anda memenuhi PREFERENSI si WAnita, dll. dll. Social Programming, Social Pressure
dan Culture sangat mempengaruhi LOGIKA Wanita.

6. Fisik 
Ini termasuk apa yang Wanita Dengar dan Lihat termasuk penampilan anda, body
language anda, ekpresi wajah anda dan cara anda berkomunikasi.

7. Emosi
Inilah target kita untuk membuat Wanita Jatuh Cinta, jika kita sudah dapat
menguasai Emosi mereka, maka semua ke-6 HAL diatas hanya akan SEDIKIT saja
mempengaruhi mereka.
Lalu apa gunanya mengetahui 7 HAL tentang Psikologi Wanita diatas?
Hal itu berguna untuk membantu anda mengetahui secara SPESIFIK bagaimana
caranya MEMIKAT wanita yang anda inginkan dan apa yang dapat membuat
mereka MENYUKAI anda…

Jadi, buatlah LIST yang JELAS dan SPESIFIK seperti apa Wanita yang anda inginkan
itu. contoh: Wanita idaman saya adalah Tinggi 165cm, 18 – 23 tahun, mata biru,
paras cantik, putih, langsing, dll. berkebangsaan Eropa karena saya suka budaya
eropa, Kepribadian Seru, Tidak membosankan, Pintar, Penyayang, Perhatian dan
Setia tanpa kecuali.

Dengan membuat LIST tersebut anda kini dapat dengan mudah MENCARI dan
MENEMUI Wanita seperti yang anda inginkan tersebut.
contoh: Jika saya tinggal di Jakarta dan mencari wanita Asia yang Cantik pasti
saya mencarinya di daerah Jakarta Barat. Jika saya mencari wanita Eropa pasti
saya mencarinya di Jakarta Selatan. JIka saya mencari seorang wanita muda,
pintar dan cantik, pasti saya mencarinya di kampus-kampus, dll. dll.
Istilah Marketingnya adalah “targeting your market”. Anda harus benar-benar
memahami dulu wanita seperti apa yang anda mau, dengan demikian anda
tidak akan MENDAPATKAN wanita yang salah nantinya… Jangan gunakan
mentalitas “yang penting cantik, kepribadian menyusul…” bisa-bisa anda dapat
wanita cantik tapi menyusahkan anda nantinya… Lebih baik dari awal anda
tentukan dulu wanita seperti apa yang anda inginkan secara fisik, mental dan
spiritual!

Andapun dengan MUDAH dapat meng-analisa cara mereka BERKOMUNIKASI,
cara mereka BERGAUL, apa HOBI mereka, bagaimana BUDAYA mereka serta cara
BERFIKIR dan PERILAKU apa yang dapat membuat Wanita Pilihan anda ini berkata
“wow” saat bertemu anda.

Untuk menjadi Pria Idaman bagi Wanita Idaman anda, anda harus Pelajari dan
pahami benar-benar seperti apa Wanita Idaman anda tersebut… dengan begitu,
andapun tau apa yang dapat menguasai emosi mereka. Anda akan sulit untuk
mereka tolak.

Monday, April 25, 2016

Cara Tradisional Pria untuk Memikat Wanita



CARA LAMA YANG TIDAK ADIL.

Sigmund Freud, Bapak psikologi modern yang lebih dari 30 tahun mempelajari
tingkah laku manusia berkata “APA SIH YANG WANITA INGINKAN?”. Bahkan bapak
psikologi modern saja bingung apa yang di-inginkan wanita.
Wanita memang makhluk yang kompleks, banyak pria bingung apa sebenarnya
yang di-inginkan Wanita. Kadang wanita berkata “A”, tapi saat si pria memberikan
“A” wanita tersebut berubah pikiran dan menginginkan “B”, pada saat si Pria
memberikan “B”, wanita bilang bahwa ternyata “A” lebih bagus tanpa alasan
yang masuk akal. Pria memandang Wanita bagaikan sebuah kue coklat stoberi yang indah, lembut dan lezat. Sebuah santapan nikmat disaat perut mereka lapar sekaligus pemuas nafsu makan mereka. 

Sebagian dari para Pria berfantasi memiliki romatika dengan Wanita yang layaknya bidadari untuk hidup damai, tenang dan bahagia selamanya. Sebagian lagi mendambakan Wanita sebagai objek untuk mendapatkan reputasi karena memiliki Wanita cantik yang tidak dimiliki Pria-pria lain membuat mereka merasa bangga dan diakui. Kecantikan sering kali menjadi Faktor utama para Pria untuk memiliki seorang Wanita selain Kepintaran, Kepribadian yang menarik dan Kekayaan.
Banyak Pria yang menyangkal, hanya sedikit yang mengakui.
Banyak Pria melakukan banyak hal-hal gila demi “berkorban” untuk bisa memiliki
seorang Wanita.

Ada yang rela mengeluarkan banyak uang untuk membelikan barang-barang mewah atau apa saja yang diminta si Wanita. Ada yang membuang banyak waktu sia-sia untuk bisa “menjadi pembantu” si Wanita dengan berbuat extra sangat sangat baik seperti mengerjakan tugas si Wanita, membawakan belanjaan si Wanita, menemani si Wanita belanja, menjadi “sopir keliling” si Wanita, mendengarkan dengan seksama cerita “membosankan” si Wanita bahkan banyak Pria yang mengorbankan kewajiban mereka di kantor, tempat kerja atau
kewajiban-kewajiban lainnya hanya untuk bisa bersama Wanita yang mereka
harap bisa TERTARIK dengan Mereka. Banyak juga pria sangat ekstrim berkompetisi dengan pria lain untuk mendapatkan seorang Wanita. Diantaranya ada yang sampai berkelahi, perang dingin, kehilangan teman atau bahkan diusir oleh keluarga gara-gara seorang Wanita. 

Semua hal-hal gila ini dilakukan untuk menunjukan seberapa besarnya para Pria mampu berkorban demi seorang Wanita. Dan pada saat si Wanita pergi dengan
Pria lain, para pria malang yang suka “berkorban” ini stress, depresi dan bahkan ada yang bunuh diri.
“Apa sih yang kurang dari pengorbanan saya?” itu adalah kata-kata yang sering
kali kita dengar dari seorang Pria! Mereka selalu berpikir bahwa semakin banyak
mereka berkorban, semakin si Wanita tertarik dengan mereka. Apa benar begitu?
Hmmm… menarik bukan? 

Itu adalah CARA LAMA YANG TIDAK ADIL.
Jika CARA LAMA seperti itu TIDAK ADIL, mengapa tidak cari CARA BARU yang lebih
ADIL dan bahkan MENGUNTUNGKAN anda?
Pejamkan mata anda dan bayangkan jika anda tidak usah melakukan hal-hal gila yang dilakukan para Pria, anda tidak perlu menghambur-hamburkan uang anda, anda dapat menjadi diri sendiri dan anda mampu membuat Wanita yang selalu di’inginkan para Pria itu tertarik dengan anda. Apakah ada cara seperti itu?
Beruntunglah anda karena anda adalah orang yang terpilih yang akan menguasai sebuah konsep yang 99% pria diluar sana sangat-sangat-sangat butuhkan.
INGAT! Banyak berkorban, melakukan hal-hal gila, menghambur-hamburkan uang, sok jagoan atau macho, sok pintar, sok baik, sok membantu, sok kenal-sok dekat (sksd), sok baik DEMI membuat seorang Wanita TERTARIK kepada anda adalah CARA LAMA YANG TIDAK ADIL. 

YA, Kadang-kadang cara-cara tersebut berhasil jika anda mempunyai wajah ganteng, kaya, mempunyai fisik ideal, terkenal atau wanita tersebut MEMANG sudah TERTARIK dengan anda DARI SANANYA!. 

Tapi bagaimana jika Wanita tersebut BELUM tertarik kepada anda dan anda tidak ganteng, kaya, terkenal atau punya fisik ideal? Diam saja tidak cukup, Anda harus lakukan sesuatu!...

ANEH TAPI NYATA
Sejak SMU saya sangat-sangat bingung dengan suatu fenomena tentang Pria dan
Wanita. Selalu saya bertanya mengapa cewe-cewe yang paling cantik, imut,
pintar, menarik dan seksi selalu dekat dan pacaran dengan cowo-cowo yang suka
tawuran dan yang populer? Cowo-cowo yang “Nakal” dan bandel yang suka
memukuli anak-anak yang pintar dan jenius. Atau Anak-anak yang populer alias
yang gaul atau yang cool!. Kenapa yang pacaran sama anak-anak yang pintar
dan jenius adalah cewe-cewe yang tidak terlalu menarik?
Dan lucunya, Anak-anak yang suka tawuran dan anak-anak yang populer tadi
jarang ada yang ganteng atau kaya. 

- Hmmm… mungkin Wanita suka pria yang populer dan kuat fisiknya?
Saat di bangku kuliah saya melihat ada sedikit perubahan. Para Wanita di bangku
kuliah lebih agak sedikit selektif. Saya mulai menemukan para Wanita-wanita yang
paling cantik, imut, pintar dan seksi tadi mulai suka dekat dan berpacaran dengan
pria-pria yang pintar secara akademis. Tapi tetap Para Pria “Nakal” dan populer
adalah “Raja Wanita” Cantik, seksi dan menarik di Kampus! Hmmm… aneh… saya
masih melihat kesamaan yang mendasar yaitu,
- Wanita suka Pria Populer dan kuat fisiknya
- Diantara Pria-pria tersebut jarang ada yang Ganteng atau Kaya.
- Para pria yang pintar secara akademis pun jarang ada yang Ganteng atau
Kaya. 

Saya mulai berpikir mungkin Wanita di tahap Kuliah sudah mulai berfikir untuk
menjalin hubungan rumah tangga dan ingin mencari Pria yang mapan untuk
menjadi suami.
- YA, mungkin Wanita menginginkan Pria yang Mapan!...
Saya pernah bekerja di beberapa perusahaan nasional dan asing dan saya
mendapatkan kesempatan untuk mempelajari Wanita dari berbagai budaya,
kultur dan latar belakang, diantaranya Wanita Indonesia, asia, eropa, amerika,
India dan Wanita dari percampuran budaya.
Dan anda tau apa yang saya temukan?
- Banyak Wanita bersuamikan Pria Mapan menjalin “hubungan rahasia” dengan
Pria yang “nakal” mirip seperti di smu.
- Banyak Wanita karir yang SUPER CANTIK, SEKSI dan SUKSES menjalin hubungan
dengan Pria yang SANGAT TIDAK TAMPAN dan TIDAK KAYA!
- Banyak Pria Karir yang SUPER KAYA yang rela membelikan apapun demi sang
Wanita malah DITOLAK oleh WANITA yang lebih memilih Pria yang biasa saja.
Hal ini tentu saja membuat saya pusing karena TIDAK ADA ALASAN YANG JELAS
tentang semua fenomena ini… yang selalu saya pahami dan percayai adalah
Wanita suka Pria TAMPAN dan GANTENG dan KAYA. Tapi kenapa semua yang
saya lihat justru adalah bertentangan dengan apa yang semestinya terjadi? Bukan
hanya saya yang membuktikan hal “janggal” ini, tapi juga banyak teman-teman
kerja dan teman-teman beraktifitas saya yang mengakuinya.
Lalu saya bertanya kepada teman-teman saya yang “sadar”akan hal “janggal” ini
apa kira-kira yang membuat para Wanita ini menjadi “aneh”? Dan selalu jawaban
mereka adalah,
- Itulah TAKDIR… Para Pria itu beruntung!...
Apa benar begitu? Saya sangat tidak puas dengan jawaban semua teman-teman
saya. Hal ini melebihi dari hanya sekedar takdir, ada sebuah proses yang tak
dapat saya lihat yang terjadi dibalik para Wanita ini.
Pada saat saya jalan-jalan pun saya melihat fenomena aneh ini,
- Seorang Wanita SANGAT Cantik dan BERKELAS memeluk erat seorang pria
pendek, tidak ganteng sama sekali, hitam dan dekil berjalan mesra di
sebuah mall. Si pria tidak terlalu mempedulikan si Wanita, malah si wanita
yang berusaha mencari perhatiannya dengan memeluknya lebih erat dan
merasa sangat bangga dengan pasangannya tersebut!
- Seorang Pria Rambut Kribo, jauh dari ganteng, kulit coklat dengan tindikan
dimana-mana membonceng DUA WANITA CANTIK SUPER SEKSI di motornya!
Para Wanita memeluknya erat!, jadi saya yakin itu bukan tukang ojek!
Bahkan saya menemukan fenomena ini di beberapa teman Wanita saya yang
kebetulan adalah Wanita “berkualitas”,
- Banyak Wanita SUPER CANTIK yang saya kenal MENGORBANKAN UANG
mereka, PEKERJAAN mereka dan Kehilangan banyak teman demi Pria yang
sesungguhnya tidak pantas buat mereka. Pria yang justru tidak terlalu peduli
dengan si Wanita bahkan tidak setia dan sering selingkuh. Anehnya, para
Wanita ini dengan sabar dan setia mengurus dan memberikan segala
macam KEBUTUHAN yang para pria tersebut butuhkan TANPA DIMINTA.
- Banyak pula Wanita-wanita curhat kepada saya tentang betapa mereka
MENGAGUMI dan MENCINTAI serta MENYAYANGI pacar mereka yang
menurut saya sangat-sangat tidak berimbang secara fisik. Pria-pria Lebih
Pendek, Lebih Tua, Kurus, Gemuk dan tidak menarik sama sekali secara fisik
maupun Kaya.
Ada juga beberapa teman Pria saya yang yang bergonta-ganti Wanita SUPER
CANTIK tanpa harus bersusah payah mendapatkan mereka, justru malah para
wanita itu yang "berebutan" dan "ngantri" untuk bisa merasakan "CINTA" sang Pria.
Setelah cukup pusing menghadapi kenyataan yang sangat berbeda dengan apa
yang saya percayai selama ini, saya mulai meng-interview beberapa teman
Wanita yang “janggal” ini. Dan selalu jawaban mereka adalah,
Æ Kalau sudah sayang, susah aja lepasnya
Æ Ga tau kenapa! gue sayang sih sama cowo gue
Æ Kalo udah cinta mau gimana lagi?
Wanita-wanita berkualitas ini seperti buta akan kenyataan… mereka tidak lagi
memandang wajah ganteng, fisik menarik ataupun kekayaan serta kemapanan.
Bahkan mereka rela melakukan “pengorbanan” yang seharusnya dilakukan Para
Pria yang menggunakan CARA LAMA YANG TIDAK ADIL.
Ada HAL LAIN yang membuat mereka LEBIH TERTARIK pada seorang Pria MELEBIHI
wajah ganteng, fisik menarik ataupun kekayaan.
Jika saat ini anda sulit untuk mempercayai apa yang saya tuliskan kepada anda,
Luangkan waktu anda untuk melihat sekeliling anda atau cari pengalaman dari
anda atau teman-teman anda, Anda pasti akan temukan bukti tentang fenomena ini.
PRIA MENGEJAR, WANITA MENENTUKAN
Coba anda Tanya kepada para Wanita, siapa yang mengejar dan siapa yang
menentukan? Pasti kebanyakan Wanita akan berkata bahwa Pria lah yang
MENGEJAR dan Wanita lah yang MENENTUKAN “Layak atau Tidak”nya si Pria
menjadi Pasangan Wanita tersebut. Pria itu bagaikan sebuah minuman dingin bagi wanita. Wanita tidak langsung meminum habis minumannya, tetapi mereka meminumnya perlahan-lahan… mereka menikmati manisnya setiap tetes minuman tersebut. Dan jika minuman tersebut sudah habis, mereka AKAN memutuskan apakah minuman tadi enak atau tidak… jika enak, mereka akan meminum minuman yang sama… jika tidak, tentu mereka akan mengganti minuman mereka dengan minuman yang lainnya. Bahkan kadang satu macam minuman tidaklah cukup bagi mereka. Seperti Minuman Dingin, Wanita menikmati setiap pujian, pelayanan, pengorbanan dan pemberian dari setiap Pria. Wanita secara TIDAK SADAR
menikmati semua yang Pria berikan tanpa terlalu PEDULI dengan MOTIF dibalik semua yang diberikan Pria tersebut. Para pria tersebut memberikan pujian, pelayanan, pengorbanan dan materi dengan MOTIF bahwa mereka dapat mendapatkan perhatian dari sang Wanita dan berharap agar sang Wanita merasa TERTARIK dengan mereka. Tapi malahan semua yang diberikan para Pria tersebut “diminum habis” si Wanita tanpa merasa TERTARIK sama sekali kepada para Pria tersebut, Bahkan kadang “satu minuman” tidaklah cukup! Malangnya para Pria malah berpikir bahwa semua yang mereka berikan kurang banyak, jadi mereka memuji lebih banyak, melayani lebih banyak, berkorban lebih banyak dan memberi lebih banyak dengan harapan akan mendapatkan KETERTARIKAN si wanita. Dan pada saat si Wanita yang secara TIDAK SADAR “meminum” habis lagi “minumannya” tanpa menjadi TERTARIK dengan para Pria tersebut, para Pria menjadi kesal dan marah dan menuduh si Wanita tidak tau
berterima kasih atas segala yang mereka telah berikan. Inilah yang terjadi… Pria MENGEJAR dengan pujian, pelayanan, pengorbanan dan pemberian… Wanita MENENTUKAN siapa yang layak menjadi pasangannya tanpa peduli dengan pujian, pelayanan, pengorbanan dan pemberian para Pria. Jangan berpikir bahwa semakin indah pujian anda, semakin baik pelayanan anda, semakin besar pengorbanan anda, semakin mewah pemberian anda, si Wanita akan memilih anda. Kita akan lebih dalam lagi mengetahui apa sebenarnya yang membuat Wanita TERTARIK dengan Pria di BAB II.
Mungkinkah kita balik kondisinya? Yaitu Wanita mengejar dan Pria Menentukan?
Ya! Bisa!... tapi tidak secara langsung atau blak-blak –kan tentunya… Kita tidak
bisa membuat Wanita langsung mengejar kita dengan sendirinya. Bahkan Wanita
yang TERTARIK kepada Anda sekalipun akan berusaha membuat skenario yang
membuat anda mengejar mereka dan membuat mereka yang menentukan.
Lalu jika bagi Wanita “Pria itu harus mengejar” dan “Wanita itu harus Menentukan”,
buatlah mereka berpikir begitu, buatlah kesan seakan-akan mereka yang
menentukan, tetapi sesungguhnya anda sudah tau bahwa andalah yang
menentukan. (Anda akan lebih Jelas tentang topik ini di BAB IV)
Jika pria adalah minuman dingin, buatlah Wanita mencicipi sedikit dan tarik minumannya. Buat si Wanita meminta minumannya. Kali ini buat si Wanita “berkomitmen” untuk menjadi TERTARIK dan beri lagi sedikit dan tarik lagi. Beri lagi sedikit dan buat si Wanita berkomitmen lebih dalam lagi dan tarik lagi. Mengerti maksud saya? Jangan berikan semuanya kepada Wanita, tapi berikan mereka sedikit untuk mencicipi dan tarik jauh-jauh. Itu akan membuat mereka mulai mengejar anda. (Anda akan lebih Jelas tentang topik ini di BAB IV)

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK Penelitian tindakan kelas (PTK)


Hopkins (1993) mendefinisikan PTK sebagai berikut
… a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out.

Dari definisi di atas, dapat kita cermati bahwa PTK merupakan suatu kajian yang bersifat reflektif dari pelaku penelitian tersebut. PTK dilakukan dalam suatu situasi sosial (termasuk didalamnya situasi pendidikan) dalam upaya memantapkan alasan dan ketepatan dari (a) praktik pengajaran pelaku penelitian (guru), (b) pemahaman terhadap praktik tersebut, dan (3) situasi dimana praktik tersebut dilakukan.
Dengan pengertian di atas, jelaslah bahwa PTK merupakan suatu penelitian yang dilakukan karena adanya kebutuhan pada saat itu, suatu situasi yang memerlukan penanganan langsung dari pihak 
yang bertanggungjawab atas penanganan situasi tersebut (guru).

Berdasarkan pengertian di atas, PTK memiliki beberapa karakteristik, sebagai 
berikut: 
(1) PTK adalah suatu penelitian tentang praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru itu sendiri (an inquiry on practice from within). Kegiatan penelitian oleh guru ini dipicu oleh permasalahan praktis yang riil terjadi dan dialami langsung (jadi, bersifat spesifik-kontekstual, practice driven), dan bagaimana masalah tersebut ditangani secara langsung pula (action driven).

Hal ini mengisyaratkan bahwa guru committed dalam pembelajarannya, termasuk bersedia mengubah diri (praktik pembelajarannya) bila situasi menghendaki demikian. Jadi, guru secara terus-menerus mencermati praktiknya dan permasalahan yang timbul, serta aktif mencari alternatif-alternatif pengentasan masalah yang dihadapinya. Melalui PTK, guru akan terbiasa menghadapi tantangan dan bersedia membuka diri bagi pengalaman dan berbagai proses pembelajaran yang baru. Dengan demikian, dalam PTK guru mengalami suatu involvement, keterlibatan langsung dalam PTK, dan improvement, perbaikan cara kerja dan pola fikir pedagogik (McNiff, 1992).

(2) Kerjasama kesejawatan antara para pelaku PTK (kolaboratif). Kerjasama 
kesejawatan mengisyaratkan bahwa dalam melakukan PTK, semua anggota tim 
peneliti bekerja dalam kesetaraan dalam semua tahapan PTK. PTK tidak menganut pendekatan misionaris, dimana satu pihak berposisi membimbing pihak lainnya.

Hal ini perlu ditekankan karena kolaborasi seringkali terjadi antara dosen/peneliti dari perguruan tinggi dengan guru. Dosen tersebut menganggap dirinya terjun membina guru, hal ini keliru. Dosen mungkin saja lebih paham dalam teori-teori pembelajaran, terutama teori-teori baru; tetapi guru adalah orang yang paling tahu mengenai kondisi/situasi yang sedang dihadapi. Karena itu, hubungan guru-dosen adalah hubungan kesejawatan, bukan satu lebih tinggi dari yang lain. Hubungan kesejawatan ini juga memiliki dampak positif lain; yaitu terbangunnya jembatan LPTK-sekolah dimana dosen semakin akrab dengan lapangan, sementara guru dapat menimba inovasi-inovasi yang ditawarkan dosen.
Kemmis dan McTaggart (1988) menyebutkan lima prinsip kolaboratif 
dalam PTK, yaitu 1) penghargaan terhadap waktu, 2) pembuatan keputusan 
bersama, 3) partisipasi yang terbuka dan seimbang dalam diskusi, 4) menetapkan persetujuan yang bersifat mengikat, dan 5) pembagian tugas yang adil.

(3) PTK adalah suatu kegiatan reflektif yang dipublikasikan (a reflective practice, made public). Karakteristik ini menekankan bahwa, meskipun PTK adalah suatu tindakan reflektif (a reflective practice), namun dalam PTK guru bertindak sebagai guru peneliti (teacher-researcher) yang mengkaji permasalahannya secara sistematis dan mengikuti kaidah-kaidah penelitian yang cocok. Laporan dari PTK disebarluaskan (made public) pada sejawat guru (peer review), dan ini merupakan suatu situasi yang baik untuk peningkatan profesionalisme.

2.2 PRINSIP-PRINSIP PTK
Ada enam prinsip yang mendasari PTK, yaitu:
-Pertama, tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas. Oleh karena itu, guru harus memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Mempelajari permasalahan pembelajaran yang dihadapi dan mengupayakan tindakan terbaik untuk mengatasinya. PTK adalah salah satu cara yang dapat dilakukan. 
-Kedua, meneliti adalah tugas integral dari pembelajaran,; oleh karena itu tidak diperlukan waktu guru secara khusus untuk menangani penelitian yang dilakukannya (karena penelitian tersebut dilakukan guru didalam kelas yang diasuhnya).
-Ketiga, Kegiatan penelitian guru ini harus tetap bersandar pada kaidah-kaidah 
penelitian sebagai suatu karya ilmiah (an inquiry).
-Keempat, masalah-masalah yang ditanganai adalah masalah pembelajaran yang  riil, yang langsung dialami oleh guru. Bahwa tinjauan terhadap pustaka dan teori diperlukan, tetapi hendaknya semata-mata sebagai dukungan atau justifikasi terhadap masalah riil tersebut. Masalah yang lahir dari kajian teori dianggap tidak relevan dan melanggar otentisitas masalah PTK. 
-Kelima, Konsistensi guru dalam kegiatan pengentasan masalah-masalah yang 
dihadapinya sangatlah penting. Ini berarti berarti bahwa guru diharapkan secara kontinyu mengkaji masalah-masalah pembelajarannya. Pada akhirnya, guru menjadi guru peneliti (teacher researcher). 
Keenam, cakupan permasalahan hendaknya tidak terbatas pada permasalahan yang ditemui di dalam kelas, tetapi juga dapat diperluas pada masalah persekolahan maupun Pendidikan.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download ebboknya disini

Motivasi Belajar Fisika Melalui Metode Demonstrasi


Abstrak
Pembelajaran fisika di sekolah pada saat ini lebih menekankan pada cara menyelesaikan soal dengan benar dan tepat. Siswa mempelajari teori-teori fisika berdasarkan informasi dari guru dan buku, sehingga
pembelajaran fisika membosankan, yang berakibat pada rendahnya motivasi belajar fisika. Karena itu, perlu peningkatan motivasi
melalui metode demonstrasi pada siswa SMP Negeri 5 Wates tahun pelajaran 2009/2010. Materi fisika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hukum-hukum Newton tentang gerak. 
belajar fisika. Tujuan penelitian ini adalah untuk peningkatan motivasi belajar fisika

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), dengan setting SMPN 5 Wates yang beralamat di Tambak Triharjo, Wates, Kulonprogo. dengan subyek penelitian siswa kelas VIII B yang berjumlah 32 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan indikator penelitian minimal 24 siswa memiliki motivasi belajar fisika yang baik.
Kesimpulannya adalah melalui metode demonstrasi dapat meningkatkan motivasi belajar fisika pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 5 Wates. Motivasi belajar fisika meningkat dari 5 siswa (15,6%) pada pra siklus menjadi 25 siswa (78%) pada siklus II, atau meningkat 20 siswa atau 62,4%. Hal ini melebihi indikator penelitian yaitu minimal 24 siswa memiliki motivasi belajar yang baik. Peningkatan motivasi belajar ini juga diikuti dengan peningkatan aktivitas belajar fisika dan hasil belajar fisika. Disarannya adalah sebaiknya guru 
fisika menggunakan metode demonstrasi dalam menjelaskan materi fisika. Sebab dengan metode demonstrasi siswa menjadi termotivasi, kemudian aktivitasnya meningkat, dan akhirnya hasil belajarnya juga meningkat.
Kata Kunci: motivasi belajar fisika, metode demonstrasi. 

PENDAHULUAN
Pembelajaran fisika di sekolah pada saat ini lebih menekankan pada cara menyelesaikan
soal dengan benar dan tepat. Siswa mempelajari teori-teori fisika berdasarkan informasi dari guru
dan buku, sehingga pembelajaran fisika membosankan.
Hasil observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas VIII B SMP Negeri 5 Wates dan wawancara dengan guru bidang studi fisika menunjukkan bahwa pembelajaran fisika yang digunakan di sekolah tersebut selalu menggunakan metode ceramah. Dalam kegiatan pembelajaran, guru hanya menyampaikan teori dan fakta fisika yang didalamnya terdapat banyak rumus, sehingga
membuat siswa merasa bahwa belajar fisika harus menghafal banyak rumus dan teori. Sebagian besar siswa tidak memperhatikan materi yang disampaikan. Hal ini sangat mengganggu proses belajar mengajar yang dilaksanakan, sehingga pembelajaran yang dilakukan tidak efektif. 

Akibatnya, motivasi belajar fisika menjadi rendah. Indikatornya adalah antara lain :
(1) sikap ingin
tahu siswa kurang. Sikap ingin tahu siswa kurang ditunjukkan dengan siswa enggan bertanya saat diberi kesempatan untuk bertanya. 
(2) Kecermatan siswa kurang, hal ini ditunjukkan dengan siswa kurang cermat dalam mengejakan soal yang diberikan guru. 
(3) Rasa percaya diri siswa kurang, ini ditunjukkan siswa tidak berani jika diminta mengerjakan soal di depan karena takut jawabannya salah. 
(4) Kejujuran siswa kurang. Sikap jujur yang kurang ini ditunjukkan dengan siswa tidak berani tunjuk jari jika ditanya siapakah diantara mereka yang belum paham tentang materi yang diberikan.
Akibat selanjutnya adalah Siswa cenderung malas dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Siswa di SMP tersebut perhatiannya pada materi pelajaran fisika sangat kurang, Para siswa jarang membaca buku-buku yang berkaitan dengan materi pelajaran jika tidak disuruh.
Akibatnya, prestasi belajar siswa pada mata pelajaran fisika masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata kelas untuk fisika adalah 53,4.
Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efesiensi proses belajar mengajar (Wartono,2003:6). 

Pemilihan metode pembelajaran ini akan berpengaruh pada
proses pembelajaran yang akhirnya akan berdampak pada berhasil tidaknya suatu pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran dengan metode demonstrasi dipilih untuk meningkatkan motivasi belajar fisika siswa kelas VIII B SMP Negeri 5 Wates tahun pelajaran 2009/2010.
Rendahnya motivasi belajar fisika ini yang kemudian berpengaruh aktivitas belajar fisika
di kelas dan prestasi belajar fisika di SMP Negeri 5 Wates dapat disebabkan metode pembelajarannya yang monoton dan tidak mengajak siswa untuk aktif. Berdasarkan fakta tersebut, perlu perbaikan atau penerapan inovasi pembelajaran fisika melalui pembelajaran dengan metode
demonstrasi. 

Metode Demonstrasi 
Metode demonstrasi hampir sejenis dengan metode eksperimen. Pada metode demonstrasi, siswa tidak melakukan percobaan hanya melihat saja apa yang dikerjakan oleh guru. Menurut Wina
Sanjaya (2009: 150), metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang sesuatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian, metode demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Oleh karena itu, dituntut untuk  guru lebih aktif. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi metode demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk
pengertian dengan baik dan sempurna. Siswa juga dapat mengamati dan memperhatikan pada apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung. Penggunaan metode demonstrasi mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Menurut Roestiyah, (2008: 83), tujuan metode demonstrasi yaitu agar siswa mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu, cara membuat sesuatu, dapat mengamati bagian-bagian dari suatu benda, dan menyaksikan kerja suatu alat. 

Menurut Wina Sanjaya (2009: 150) terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dari
metode demonstrasi. Kelebihan metode demonstrasi antara lain sebagai berikut.
1. Mmelalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa
disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
2. Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga
melihat peristiwa yang terjadi.
3. Dengan cara mengamati secara langsung, siswa akan memiliki kesempatan untuk
membandingkan antara teori dan kenyataan.”
Sedang beberapa kelemahan dari metode demonstrasi adalah sebagai berikut.
1. Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang
memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi.
2. Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti
penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan
metode ceramah.
3. Metode demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus,
sehingga dituntut untuk bekerja lebih profesional.”
Motivasi Belajar Fisika
Dalam kegiatan belajar, maka motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan
yang memberikan arahan pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat dicapai (Sardiman, 2007: 75). Siswa yang mempunyai motivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.
Menurut asal usulnya, motivasi dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsic adalah motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang. Sedang motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang. 

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arahan pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan (Winkel, 1987:92). 

Motivasi belajar mempunyai peranan sangat penting dalam memberikan semangat untuk belajar dan memberikan arahan yang jelas dalam belajar.
Menurut Sardiman (2007:83) fungsi motivasi adalah 

(1) mendorong manusia untuk berbuat.
(2) menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai, 
(3) menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yan harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Mengingat demikian pentingnya motivasi bagi siswa dalam belajar, maka guru fisika diharapkan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa-siswanya. Dalam hal ini banyak cara yang dapat dilakukan, diantaranya menciptakan kondisi-kondisi tertentu yang dapat membangkitkan
motivasi. 

Menciptakan kondisi tertentu dapat dilakukan dengan pemilihan metode pembelajaran yang tepat, misalnya memilih metode yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk meningkatakan motivasi belajar siswa adalah:  
(1) topik yang dipelajari menarik dan berguna bagi siswa.
(2) tujuan pembelajaran jelas.
diinformasikan pada siswa.
(3) peserta didik harus selalu diberi tahu tentang kompetensi dan hasil
belajarnya.
(4) pemberian pujian dan hadiah lebih baiak dari hukuman, 
(5) manfaatkan sikap, cita-
cita, rasa ingin tahu, dan ambisi peserta didik, 
(6) usahakan untuk memperhatikan perbedaan
individual peserta didik, 
(7) hubungan guru dan murid, semakin baik hubungan antara guru dan
murid semakin baik motivasi belajarnya, (Mulyasa, 2003:114)
Dalam penelitian ini indikator dari motivasi belajar adalah:
(1) ketekunan siswa dalam belajar tanpa diperintah.
(2) keuletan siswa dalam menghadapi kesulitan / mengerjakan soal.
(3) minat dan ketajaman perhatian siswa dalam belajar.
(4) keinginan berprestasi dalam belajar, dan 
(5) kemandirian dalam belajar.

Penulis : R. Wakhit Akhdinirwanto, Universitas Muhammadiyah Purworejo
Untuk lebih lengkapnya download ebook nya disini


PANDUAN MEMBUAT SISTEMATIKA USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH)



A. JUDUL PENELITIAN
Judul hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas
menggambarkan masalah yang akan diteliti dan tindakan untuk mengatasi
masalahnya.

B. BIDANG KAJIAN
Tuliskan bidang kajian penelitian.

C. PENDAHULUAN 
Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan
dan pembelajaran. Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti
merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah, dan diagnosis
dilakukan oleh guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah.
Masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah penting dan mendesak
untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan
waktu, biaya dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian
tersebut. Setelah diidentifikasi masalah penelitiannya, maka selanjutnya perlu
dianalisis dan dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah
tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antar anggota peneliti
dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut.
Prosedur yang digunakan dalam identifikasi masalah perlu dikemukakan
secara jelas dan sistematis.

D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
1. Perumusan Masalah
Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan penelitian
tindakan kelas. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi,
asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah
sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif
tindakan yang akan dilakukan dan hasil positif yang diantisipasi dengan
mengajukan indikator keberhasilan tindakan, dan cara pengukuran serta
cara mengevaluasinya.
2. Pemecahan Masalah
Uraikan alternatif tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan
masalah. Pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab
masalah yang diteliti, hendaknya sesuai dengan kaidah penelitian tindakan
kelas. Cara pemecahan masalah ditentukan berdasarkan pada akar
penyebab permasalahan dalam bentuk tindakan (action) yang jelas dan
terarah.
3. Tujuan Penelitian
Kemukakan secara singkat tentang tujuan penelitian yang ingin dicapai
dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan
umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga diukur tingkat
pencapaian keberhasilannya.
4. Kontribusi Hasil Penelitian
Uraikan kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas pendidikan dan/atau
pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru, maupun
komponen pendidikan di sekolah lainnya. Kemukakan inovasi yang akan
dihasilkan dari penelitian ini.

E. KAJIAN PUSTAKA 
Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan
gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan. Kemukakan
juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan
tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini
digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan
digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dapat dikemukakan hipotesis
tindakan yang menggambarkan indikator keberhasilan tindakan yang
diharapkan/diantisipasi.

F. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan.
Kemukakan objek, waktu dan lamanya tindakan, serta lokasi penelitian secara
jelas. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi, evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Tunjukkan
siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan indikator keberhasilan
yang dicapai dalam setiap siklus sebelum pindah ke siklus lain. Jumlah siklus
diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal
kegiatan belajar di sekolah. Dalam rencana pelaksanaan tindakan pada setiap
tahapan hendaknya digambarkan peranan dan intensitas kegiatan masing-
masing anggota peneliti, sehingga tampak jelas tingkat dan kualitas
kolaborasi dalam penelitian tersebut.

G. JADWAL PENELITIAN
Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi perencanaan,
persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian dalam
bentuk Gantt chart. Jadwal kegiatan penelitian disusun selama 10 bulan.
H. BIAYA PENELITIAN
Kemukakan besarnya biaya penelitian secara rinci dengan mengacu
kepada kegiatan penelitian.
Rekapitulasi biaya penelitian:
• Honorarium ketua, anggota maksimal 30%
• Biaya operasional minimal 30 %
• Biaya pembelian ATK maksimal 30%
• Lain-lain pengeluaran 10%

I. PERSONALIA PENELITIAN
Jumlah personalia penelitian maksimal 5 orang, yang terdiri dari :
1 orang Ketua Peneliti (dosen LPTK), 4 orang anggota peneliti yang dapat
terdiri dari 1 orang dosen LPTK dan 3 orang guru dan/atau tenaga
kependidikan lainnya di sekolah, atau 4 orang guru/tenaga kependidikan di
sekolah. Jumlah guru minimal 2 orang dan harus lebih banyak dari jumlah
dosen. Uraikan peran guru, jumlah waktu yang digunakan dalam setiap
bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Penelitian ini sekurang-kurangnya
dilakukan oleh 3 orang peneliti, yang 1 orang sebagai Ketua Peneliti (dosen
LPTK) dan 2 orang guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah.
Rincilah nama personalia tim peneliti, golongan, pangkat, jabatan, dan
lembaga tempat tugas, sama dengan yang tercantum dalam Lembar
Pengesahan no.2.
Lampiran-lampiran
1. Daftar Pustaka, yang dituliskan secara konsisten menurut model APA, MLA
atau Turabian.
2. Riwayat Hidup Ketua Peneliti dan Anggota Peneliti (Cantumkan pengalaman
penelitian yang relevan sampai saat ini).

Untuk lebih lengkapnya silahkan download Ebooknya disini



Kumpulan Serial Number

HOME SECURITY 1. AVG INTERNET SECURITY 8MEH-R3VBQ-DC433-3FPOA-YK6TW-NEMBR-ACED 8MEH-RPTGT-KMOL7-EEEVR-KYX7C-LEMBR-ACED 8MEH-RF22Z-ANGGS-...